menuju swasembada pangan 2017

Jelang ramadan, pengawasan daging diperketat

Reporter : Dede Rosyadi | Jumat, 23 Mei 2014 10:18
Jelang ramadan, pengawasan daging diperketat
Daging. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Tak lama lagi, bulan ramadan segera tiba. Banyak warga yang biasanya mengonsumsi daging. Untuk mencegah masuknya daging sapi ilegal dan daging celeng atau babi hutan, Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian (Kementan), meningkatkan frekuensi pengawasan.

Kepala Barantan Kementan, Banun Harpini, mengatakan operasi pengawasan akan diintensifkan di semua unit pelaksana teknis (UPT). Terutama wilayah yang rentan menjadi pintu masuk penyelundupan daging tersebut.

"Kini, masing-masing UPT melakukan operasi pengawasan, terutama di laut untuk mencegah peredaran daging ilegal ini dua atau tiga hari sekali," kata Banun, seperti dikutip dari antaranews, Jumat (23/5).

Wilayah rentan yang dimaksud Banun adalah perairan sekitar Selat Sunda, atau Pelabuhan Bekaheuni Lampung, dan Merak, Banten yang menjadi jalur distribusi daging celeng dari Pulau Sumatera ke Jawa.

Sejak Januari, hingga Mei 2014, Barantan telah mengamankan sekitar 3.300 kilogram daging celeng tanpa dilengkapi sertifikat kesehatan. Sehingga diduga kuat daging tersebut mengandung banyak cacing pita yang berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Banun menjelaskan wilayah rentan lainnya adalah Selat Malaka, yang kerap menjadi pintu masuk daging sapi ilegal dari India dan Malaysia. Daging sapi ilegal melalui jalur perdagangan internasional ini juga tidak dilengkapi sertifikat kesehatan.

Waktu yang rentan terhadap peningkatan jumlah daging ilegal adalah momentum menjelang ramadan dan ketika harga daging mengalami kenaikan di pasaran.

"Dari per tahunnya, kami melihat kecenderungan seperti itu. Terutama, menjelang ramadan, saat kebutuhan tinggi," ujarnya.

Namun, jika dilihat dari tren tahun ke tahunnya, Banun mengklaim operasi pengawasan yang dilakukan pihaknya, bersama Mabes Polri, dan juga unsur lain telah berhasil menekan aktivitas penyelundupan daging ilegal tersebut.

Untuk daging celeng ilegal, misalnya, pada 2013, Barantan berhasil mengamankan 21.000 kilogram, sedangkan pada kurun Januari-Mei 2014, sebanyak 3.300 kilogram daging celeng disita dan dimusnahkan.

"Dari tren tahun ke tahun, kami melihat penurunan," ungkapnya.

Banun menambahkan peningkatan operasi pengawasan peredaran daging ilegal menjelang ramadan juga hasil kerja sama dengan Polisi Air Baharkam Polri.

Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan yang menyebutkan bahwa setiap media pembawa (dalam hal ini daging) yang diantarkan wajib dilengkapi dengan sertifikat sanitasi dari daerah asal.

Ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada pelaku pelanggaran tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UU No. 16 Tahun 1992 adalah berupa pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp150 juta.

[cza]


Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Advertorial, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Advertorial.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup





Komentar Anda


LATEST UPDATE