menuju swasembada pangan 2017

Mentan: Ketergantungan impor pangan ancam kedaulatan negara

Reporter : Dede Rosyadi | Senin, 27 April 2015 09:09
Mentan: Ketergantungan impor pangan ancam kedaulatan negara
Menteri Pertanian Andi Amran tinjau Tulang Bawang. ©2015 Merdeka.com/Dede Rosyadi

Merdeka.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia sebagai negara besar harus memperkuat ketahanan pangannya sebisa mungkin untuk memenuhi kebutuhan rakyat dari produksi dalam negeri sendiri. Pasalnya, ketergantungan pada pangan impor dapat mengancam kedaulatan negara.

"Kalau ketahanan pangan lemah, kedaulatan negara terancam, kriminalitas juga pasti meningkat," jelas Amran di Pulau Buru, Maluku, akhir pekan kemarin (26/4).

Mentan Amran menambahkan, pemerintahan Jokowi-JK berkomitmen serius membangun pertanian. Dirinya mengaku diminta terjun langsung ke lapangan untuk memperhatikan masalah petani ketika diangkat menjadi Menteri Pertanian dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

"Kami diminta Bapak Presiden Jokowi memperhatikan petani dengan turun ke lapangan, berdiskusi dengan petani, dan sebagainya," paparnya.

Selain itu, pihaknya juga tak mau begitu saja membuka keran impor pangan meski ada gejolak harga. Dia mencontohkan, ketika harga beras naik pada Januari-Februari lalu, pemerintah tetap tak mengimpor beras. Sebab, impor beras akan menjatuhkan harga sehingga merugikan petani.

"Sampai hari ini, sejak kami bergabung di kabinet kerja, tidak ada impor beras, harganya beras sekarang sudah stabil," tegas Kementan.

Sama halnya dengan beras, ketika harga cabai dan bawang merah melonjak pun pemerintah tetap tak membuka pintu untuk impor. Alasannya, harga yang tinggi menguntungkan para petani kecil yang menanam cabai dan bawang merah.

"Bawang merah rencana awal impor 30 ribu ton, sampai hari ini belum impor. Kalau harga cabai dan bawang rendah, tidak ada (masyarakat) yang mengeluhkan, padahal petani rugi," imbuhnya.

Untuk mencapai swasembada beras, jagung, dan kedelai yang ditargetkan bisa dicapai pada 2017. Amran meminta para kepala daerah untuk menggenjot produksi ketiga pangan itu. Bila target produksi di daerah terlampaui, dirinya berjanji akan menambah kucuran anggaran pertanian untuk daerah tersebut di tahun berikutnya.

"Kalau produksi meningkat, kami akan tambah anggaran. Tapi kalau tidak naik, tahu diri saja," ucap Mentan.

Sebagai bentuk keseriusan lain untuk menggapai cita-cita swasembada pangan, pemerintah juga serius mengawasi penyaluran benih dan pupuk subsidi untuk para petani. Bila ada yang menyelewengkan, pemerintah tak segan-segan menindak tegas.

Untuk pupuk misalnya, dalam 4 bulan terakhir sudah ditahan 26 pelaku pengoplosan pupuk yang membuat pupuk subsidi langka. "Sampai hari ini 26 orang tertangkap karena mengoplos pupuk. Harus kita lindungi petani kita," ungkapnya.

Sebagai informasi, Kementerian Pertanian mengajukan tambahan dana sebesar Rp16,9 triliun dalam APBN-P 2014 untuk menggenjot produksi pangan. Dalam APBN 2015, Kementerian Pertanian sudah mendapat anggaran Rp15,8 triliun, sehingga total anggaran Kementan APBN-P 2015 adalah Rp32,7 triliun. Tambahan anggaran ini diperoleh dari ruang fiskal yang luas pasca pengurangan besar-besaran subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Tambahan anggaran itu terutama difokuskan untuk rehabilitasi jaringan irigasi, bantuan benih, bantuan pupuk, dan bantuan alat mesin pertanian (alsintan). Tambahan anggaran rehabilitasi jaringan irigasi tersier untuk 1,1 juta areal lahan pertanian mencapai Rp1,32 triliun.

Ada juga anggaran pengadaan benih untuk 12 ribu Hektare lahan tebu sebesar Rp1,18 triliun. Anggaran bantuan pupuk untuk 3,6 juta Hektare lahan padi dan jagung mencapai Rp2,33 triliun. Dana untuk pengadaan 30 ribu ekor sapi indukan dan 1.200 ekor sapi bibit sebesar Rp1 triliun.

Kemudian untuk pengembangan kakao berkelanjutan dianggarkan Rp1,2 triliun. Pengadaan alsintan berupa 1.900 unit dryer berkapasitas 5 ton bahan bakar sekam dianggarkan Rp855 miliar. Pengadaan benih padi untuk lahan seluas 2,6 juta Hektare memakan dana Rp650 miliar.

Pengadaan benih jagung untuk areal lahan 1 juta Hektare disediakan Rp750 miliar. Ada juga pengadaan traktor roda 4 untuk budidaya tebu sebanyak 500 unit yang dianggarkan Rp475 miliar. Penambahan anggaran besar-besaran ini dilakukan untuk mencapai target swasembada pangan dalam 3 tahun.

Untuk tahun 2015 ini, Kementan menargetkan produksi padi sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling (GKG), jagung sebanyak 20,33 juta ton, kedelai 1,27 juta ton, gula 2,97 juta ton, dan daging sapi 550 ribu ton. Semuanya ditarget naik dibanding 2014.

Pada 2014 lalu, berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) II yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada November 2014 lalu, produksi padi adalah 70,6 juta ton GKG, jagung 19,13 juta ton, kedelai 920 ribu ton, daging sapi 460 ribu ton, dan gula 2,5 juta ton.

Baca juga:
Investor Brasil serius akan bangun peternakan sapi di pulau Buru
Mentan blusukan cek harga gabah di DIY dan Klaten
Mentan Amran 'sidak' harga gabah di Yogyakarta
Kementan: Lahan pertanian meningkat jadi 700 ribu hektare
Mentan desak Bulog segera serap gabah petani sesuai HPP
Mentan: Panen padi di daerah meningkat 20-50 persen

[drs]


Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Kementerian Pertanian, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Kementerian Pertanian.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup





Komentar Anda


LATEST UPDATE