menuju swasembada pangan 2017

Turki, jembatan ekspor pertanian Indonesia ke Eropa dan Afrika

Reporter : Dede Rosyadi | Jumat, 30 Mei 2014 12:59
Turki, jembatan ekspor pertanian Indonesia ke Eropa dan Afrika
Mentan Suswono. ©istimewa

Merdeka.com - Turki merupakan mitra penting Indonesia dalam perdagangan Internasional. Posisi Turki yang strategis dapat menjadi penghubung untuk ekspor produk-produk Indonesia khususnya produk pertanian ke pasar Eropa dan Afrika.

Menteri Pertanian, Suswono menyatakan, Indonesia dan Turki dapat bersinergi memanfaatkan peluang pasar di masing-masing negara. Turki yang beriklim subtropis tentunya membutuhkan produk-produk pertanian yang hanya dapat tumbuh di iklim tropis.

Demikian juga sebaliknya, Indonesia tentunya membutuhkan produk-produk pertanian yang hanya bisa dihasilkan di negara subtropis, seperti Turki.

"Masing-masing memiliki produk unggulan yang dibutuhkan dan dapat diperdagangkan antar kedua Negara," kata Suswono.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Selcuk, Rabu (28/5) di Konya, Turki.

Suswono menjelaskan tahun 2013 lalu impor produk pertanian Indonesia dari Turki mencapai AS$ 88,6 juta. Jenis produk yang diimpor adalah tembakau dan gandum. Sementara ekspor produk pertanian Indonesia ke Turki meliputi minyak kelapa sawit, karet, dan produk pertanian lainnya dengan nilai AS$ 476,3 juta.

Dalam kesempatan yang sama, Suswono juga mengklarifikasi tuduhan miring terkait produk minyak kelapa sawit, terutama dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan.

Sejumlah negara tujuan ekpsor di pasar Eropa melancarkan kampanye negatif terhadap produk minyak kelapa sawit.

"Minyak kelapa sawit terbukti lebih unggul dari minyak nabati lainnya dalam hal ekonomi , sosial, dan lingkungan," tegas Suswono.

Bahkan, lanjut Mentan, Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Tine Sundtoft menegaskan, pelarangan produk minyak kelapa sawit adalah keliru, karena hal itu mempersulit upaya-upaya pelestarian lingkungan.

Suswono menambahkan sebagai negara yang memposisikan sektor pertanian sebagai andalan perekonomian, Indonesia sangat bekomitmen terhadap pelestarian sumber daya alam, termasuk dalam hal ini prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang harus diaplikasikan industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir.

Sejak tahun 1990 pemerintah Indonesia memiliki perangkat regulasi yang lengkap dan kuat untuk mengatur industri kelapa sawit. Tahun 2011 regulasi yang ada diperkuat lagi dengan keharusan memiliki ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) sebagai mandatory bagi industri kelapa sawit.

"Tahun 2014 ini semua industri kelapa sawit harus sudah memiliki ISPO," jelas Mentan.

Menurut Mentan, upaya-upaya yang dilakukan Indonesia terkait pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan sudah diakui dan mendapat dukungan dari Parlemen Eropa.

[cza]


Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Advertorial, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Advertorial.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup





Komentar Anda


LATEST UPDATE